Postingan

Album of the month #April : Suede - Autofiction (2022)

Gambar
Selalu jadi pengalaman yang menyenangkan disaat saya dapat rekomendasi selera orang lain yang ndilalah masih masuk ke selera saya juga. Syukur kepada Tuhan atas banyaknya teman sepake dengan banyaknya referensi selera juga. Saya sempitkan dulu dalam pembahasan ini adalah selera musik. Beberapa kali saya sendiri tertarik dan penasaran terhadap band-band yang sebelumnya tidak saya dengarkan jenis musiknya. Karena mentok, saya mencari teman dengan referensi musik yang sedang saya cari, dapat beberapa sumber, lalu saya kulik dan sisanya saya gali sendiri.  Aurofiction dari Suede salah satunya. Saya tidak pernah sesuka itu dengan band Inggris ini, terbatas hanya mendengarkan beberapa karya hits mereka. Sampai datang waktu dimana saya iseng tanya ke salah satu teman, lagi suka dengerin apa? Album ini justru keluar setelah giliran saya bilang sedang suka Interpol, grup post-punk dari New york. Dengan arogan si fulan bilang bahwa album ini adalah album post-punk yang lebih bagus dari Inter...

Album of the month #March : Ports of lima - Sore (2008)

Gambar
Tidak ada yang mengalahkan kesempurnaan album pertama Sore, Centralismo diantara katalog karya mereka untuk saya. Ada faktor perkenalan pertama juga sebenarnya. Kepingan ingatan saya masih terasa waktu mendengarkan album ini. Kesan pertama, lagu bebas dengan intro drum yang rancak, mata berdebu yang ironi, ditutup lagu berjudul aku yang penuh dengan kesan kontemplasi. Album debut yang luar biasa. Tapi biarkan kali ini saya membahas album kedua mereka, ports of lima. Perdebatan antara mana yang lebih bagus, album debut atau yang kedua setelah mereka dapat aplause panjang pada karya sebelumnya. Saya sendiri suka keduanya, tapi kalau disuruh pilih mana yang paling favorit? Paragraf pertama sudah menjawab. Sulit untuk mejaga kualitas, salah satu problem utama musisi. Setelah mengeluarkan karya yang dahsyat sebelumnya, bisa jadi mereka malah mengeluarkan karya lanjutan yang terkesan bingung. Karena sudah ada patokan sebelumnya, muncul pilihan yang salah-salah jadi pisau bermata dua. Antara ...

6 ALBUM FAVORIT 2023

Gambar
   Tahun 2023 bagi saya berasa ganjil. Tau-tau sudah akhir tahun tanpa ada progress signifikan. Banyak hal yang sepertinya saya lewatkan. Yang masih membuat kesal sampai sekarang sih karena tidak beli tiket festival Joyland. Tadinya ragu mau beli karena Joyland baru sekedar membocorkan Interpol yang tidak terlalu saya ikuti musiknya, hanya dibeberapa single. Setelah beberapa waktu lupa, muncullah poster lengkap. Dan yak! Ada Mew dan Last Dinosaur. Mau beli tiket harian tapi kok mahal, masih banyak kebutuhan primer yang harus dipenuhi. Tapi terlepas dari itu semua, saya tetap bersyukur kok tahun ini bisa dilewati tanpa ada tragedi berarti. Walaupun dampaknya langsung ke “loh udah akhir tahun aja ni brader?” Seperti tahun yang sudah-sudah, saya akan mencoba menyusun rilisan favorit dalam bentuk tulisan. Libur dua tahun karena saya malas menulis, inipun saya memaksa diri untuk kembali mencoba menulis. Banyak pertimbangan dari daftar ini, dan selalu salah satunya adalah inovas...

utang rasa #3 : Silvester Tony Tokan

  “There are places I'll remember All my life, though some have changed. Some forever, not for better; Some have gone and some remain. All these places had their moments With lovers and friends I still can recall. Some are dead and some are living, In my life I've loved them all.” Dulu, bagi saya mendengarkan In my life-nya The beatles tidak ada yang istimewa. Sekedar lagu bagus dari puluhan lagu dahsyat yang pernah mereka rilis. Sekali waktu menggunakan lagu ini sebagai lagu cinta, dan akhirnya hari ini saya memakainya untuk memaknai hal lain. Sore tadi, salah satu teman dekat saya meninggal dunia, Silvester tony tokan. Salah satu teman paling cerdas, cemerlang, dan menyenangkan yang saya punya. Kami berdua punya lagu The beatles favorit kami Bersama, Yesterday. Setiap saya memegang gitar kalimat yang keluar pasti “Daniel! Mainkan Yesterday, sa suka skali dengan lagu itu. Sa mau nyanyi” Biasanya di akhir perbincangan malam Panjang perkara negara, isme-isme, dan hal...

Utang rasa #2 : Freddy Bataona, Teko’su, dan orang Timur.

  “theres goes a song from a eastern man, with his tifa and mouth like flower. Theres goes a songcomes  from the deep within, with his feeling  murdered family, by the royal army”   Oscar lolang menceritakan pengalamannya tentang orang timur dalam sebuah lagu Eastern man. Sebelumnya saya tidak terlalu mengacuhkan lagu ini, sampai saya bertemu Freddy Bataona. Bang fred, biasa saya memanggilnya, adalah gambaran kakak laki-laki yang saya idamkan. Dewasa, kerja keras, dan lucu. Menarik kebelakang, pertemuan pertama kami kurang berkesan baik karena saya ditinggal bengong sampai merokok habis dua bungkus. Yah karena dia juga sedang ngobrol dengan orang lain juga sebenarnya.   Di awal-awal merantau ke kota sebelah, sift saya bekerja selesai lewat tengah malam dan masih ada kebutuhan sosial walaupun untuk sekedar nongkrong. Itung-itung mencari kawan baru, toh pekerjaan saya waktu itu sungguh membosankan. Saya melihat tempat beliau, Teko’su buka sampai larut pagi. Tipika...

apasih #006 : Merch mulu, mana lagu barunya?

Gambar
Saya termasuk orang yang bisa dibilang sial saat mengidolakan musisi lokal. Kasusnya adalah kalau musisi tersebut tidak bubar, mandek bikin karya, atau personilnya mencar lalu bandnya vakum. Ya memang tidak ada yang menjamin bahwa nge-band bakal everlasting. Setiap orang punya kondisi masing-masing untuk menentukan apakah lanjut atau rampung. Toh kita juga tahu menjadi musisi lebih banyak pengeluarannya apalagi pada masa awal berkarir. Tapi pernahkan kamu sebal sama musisi yang tidak pernah rilis karya, tapi merch jalan terus dan intensitasnya lumayan tinggi? Sampai-sampai dikira namanya adalah merk clothingan bukan nama band. Seringai dan Burgerkill sempat mengalami itu. Tapi kita bisa mengesampingkan dua band tersebut karena faktor-faktor tertentu, salah satunya ya karena sudah jadi band legenda di skena dengan basis fans yang militan. Teenage death star masih menjadi anomali tersendiri untuk dimaklumi. Dengan hanya satu album penuh berusia belasan tahun, kita masih bisa melihat antu...

Alpha Mortal Foxtrot: No one will talk about us (no one will owe us anythings) dan kesadaran mawas diri.

Gambar
Kita bukan siapa-siapa apalagi pusat alam semesta. Ah tidak semua bisa menerima bahwa memang ada orang yang ditakdirkan untuk menjadi medioker. Biasa saja, tanpa sesuatu yang wah tapi jelek juga enggak. Mungkin ya, tanpa  sadar gaya hidup medioker seperti ini adalah gaya hidup paling ideal untuk masyarakat modern ini. Ini mungkin saja ya.   Ini bukan perkara menganjurkan gaya hidup tanpa ambisi, beda jauh. Ini adalah kesadaran bahwa kita harusnya lebih bisa menerima diri kita sendiri. Tanpa perlu mencari validasi dari orang lain dan aspek luar diri kita. Toh tidak apa-apa kita tidak menjadi “sesuatu” dalam society, selama kita bisa hidup dengan baik dalam masyarakat, itu sudah cukup. No one will talk about us (no one will owe us anythings) secara halus masuk ke kepala dan seakan mengingatakn lagi hal-hal paling mendasar dari hidup. Klaim pribadi, saya juga bukan tipe orang yang  suka-suka amat berada dalam pusat perhatian. Liriknya sederhana, terlalu sederhana malah untuk...