(Menuju) 27
Tiba-tiba, malam hari yang basah. Jogja hujan sejak sore. Belakangan rasanya keluar rumah tanpa terkena hujan bisa terhitung rezeki. Saya tidak pernah benci hujan, sebenarnya malah saya lumayan menikmati rintik yang menerpa wajah dan rasa lembap bau tanah terkena air. Melihat orang menepi seakan-akan bisa menebak, “Ah, ini hanya sebentar.” Lumayan mencerminkan sikap sok tahu kita sebagai manusia.
Sial, hujan dan kesendirian memang kadang kombo maut untuk mengingat hal-hal yang mengendap di tumpukan bawah pikiran, menunggu untuk menyerang balik di waktu yang canggung. Seperti saya malam ini. Sialan memang.
Beberapa kali saya suka menyepelekan peristiwa. Waktu begadang bersama teman, nada bagus yang niatnya dijadikan lagu penuh, patokan jalan menuju suatu tempat, dan obrolan sepele tengah malam yang kerap saya anggap hanya bunga tongkrongan karena kehabisan topik tapi belum mau pulang.
Teringat malam ini bahasan di suatu tempat makan bersama beberapa teman. Tengah malam pulang kerja, tapi memutuskan untuk mampir sejenak merayakan hari itu. Obrolan yang saya anggap sepele. Di umur berapa manusia harus memutuskan sesuatu yang besar? Saya lumayan mengurai jawaban, membaginya menjadi beberapa bagian (yang lumayan sentimental).
I. 18
Umur pembebasan. Sah secara hukum, memiliki KTP, tidak ragu membeli miras, lulus SMA, menuju pendewasaan pertama. Saya menikmati masa remaja saya hingga umur tersebut. Hidup tanpa ragu, tanpa rasa takut, tanpa sikap sopan, penuh tanda tanya, luapan adrenalin, masih tinggi amarah, haus pengakuan. Ayah masih hidup.
II. 25 (kata mereka)
Saya menyangkal bahwa 25 adalah usia yang istimewa. Quarter life crisis, kata mereka. Itu pun kalau kita hidup sampai usia 100 tahun (kata saya). Tapi siapa juga yang mau hidup sampai usia 100 tahun? Lumayan mengerikan membayangkan menjadi setua itu di dunia yang gila ini. Saya akan berterima kasih kepada Tuhan kalau saya bisa berumur panjang, tapi kalau sampai selama itu sih kayaknya enggak deh. Secukupnya saja, Tuhan (kata saya). Semoga kita semua sehat dan bahagia. Amin.
III. Saya melewatkan 27 tahun, saya akan membahasnya nanti.
IV. 28
Tony meninggal, sahabat yang tidak akan pernah saya lupakan. Salah satu manusia paling cemerlang yang saya kenal. Sahabat yang selalu saya kenang dengan lapisan rasa bersalah, sahabat yang selalu saya kenang dengan beribu andai. Apa yang saya bangun, pertahankan, dan kembangkan bersama teman-teman sekarang mungkin separuhnya adalah milik Tony. Untuk saya pribadi, 28 adalah umur dan angka yang selalu sakral dan penuh makna.
V. 40
Umur yang penuh ketakutan. Pivotal decade, katanya, atau titik balik kritis. 40 adalah puncak produktivitas sekaligus puncak kewajiban. Belum mapan di usia ini berarti menghadapi tekanan ganda (fisik menurun, beban hidup meningkat) dengan waktu pemulihan yang lebih sedikit. Kalau dipikir, cukup menyedihkan bagi saya. Hal yang belum tentu kita capai, tapi cukup membuat paranoid.
Pertanyaan lanjutan hadir: apakah kamu tipe orang yang takut saat posisi tidak tahu, atau justru takut karena sudah mengetahui?
Ironis. Analisis gembel mengatakan bahwa saya tipe orang yang takut saat saya sudah mengetahui sesuatu. Tapi yang saya setujui adalah, semakin banyak kita tahu, semakin banyak yang kita pertimbangkan.
Pada beberapa hal, saya jarang ingin tahu terhadap sesuatu. Saya selalu percaya bahwa sesuatu yang memang harus saya tahu, pasti akan saya tahu bagaimanapun caranya. Entah diberi tahu orang lain, tidak sengaja, atau sial karena keadaan dan adrenalin.
VI. 27
Saturn return, fenomena astrologi saat planet Saturnus kembali ke posisi zodiak yang sama persis dengan posisi saat seseorang dilahirkan, biasanya terjadi setiap 27–30 tahun sekali. Pada intinya, hal ini bisa diartikan sebagai transisi hidup yang intens untuk meninggalkan masa muda dan memasuki kedewasaan. Mampus (kataku dalam hati).
Tahun ini saya 27, dan kengerian terhadap deskripsi di atas sudah membuat saya meringis beberapa kali. Ironis (2), karena saya tidak percaya 25 tapi yakin terhadap perhitungan astrologi. Saya sempat ngobrol dengan Mifta karena saya menduga—dan bertanya—sepertinya belakangan saya menjadi orang yang sinis dan penuh kecurigaan. Saya kurang bisa menikmati secara penuh segala hal baik tanpa curiga kemalangan apa yang akan datang sebagai gantinya. Pada malam yang basah ini, saya mencoba membedah hal tersebut.
Kecurigaan datang karena kekhawatiran. Hal yang tidak saya lakukan di umur 18 sampai 25. Di usia yang menuju 27, saya khawatir terhadap banyak hal. Salah satunya adalah pengambilan keputusan. Saya menjadi lebih berhati-hati, mencoba untuk tidak terlalu termakan adrenalin, dan lebih sering melihat sekitar: apakah yang saya lakukan sudah benar?
Saya harus memutuskan beberapa hal belakangan ini. Satu yang paling krusial adalah pernikahan. Hal yang tidak pernah saya inginkan, paling tidak sampai belakangan ini. Saya akhirnya mendapat keberanian untuk memimpikan hal tersebut karena saya tidak dibiarkan berjuang sendiri. Syukur kepada Tuhan karena saya dipertemukan dengan orang yang luar biasa. Akhirnya saya diberi keyakinan tanpa harus memaksa bahwa saya pantas akan hal tersebut.
Satu yang lain adalah, akhirnya saya mengambil porsi lebih besar di kantor yang saya bangun bersama Bang Fred. Cukup terharu akan tawaran yang diberikan, bersamaan cukup pusing dan bimbang apakah saya memang pantas dan sudah siap. Tapi sekali lagi, saya diberi ketenangan bahwa saya dijamin tidak akan dibiarkan sendirian menanggung pusing dan cemas. Sekali lagi syukur kepada Tuhan.
VII. Outro bagian satu
Ketakutan menimbulkan kecurigaan, kecurigaan menimbulkan kehati-hatian. Saya percaya itu. Takut tidak selalu buruk, selalu berusaha mengelolanya adalah solusi. Dalam banyak kesempatan, kecurigaan berhasil menyelamatkan saya dari orang-orang menyebalkan, situasi sial, dan kemalangan.
VIII. Outro bagian dua (akhir)
Saya tahu bahwa senang datang bersama susah, untung bersama sial, tawa bersama tangis, dan hidup bersama mati. Masalah datang silih berganti dengan masing-masing ukurannya. Semoga saya bisa menjadi orang yang selalu belajar dari pengalaman. Selalu bisa menerima segala keadaan, selalu percaya bahwa segala yang kita inginkan akan menjadi milik kita sesuai dengan usaha dan kesiapan kita.
Perihal umur tidak ada yang tahu. Tapi saya menjalani setiap harinya dengan sungguh-sungguh. Mencoba mengerti tanda-tanda, mengantisipasi kemungkinan dan kecurigaan. Saya bersyukur atas apa yang saya miliki hari ini, mencoba segala hal yang bagi saya akan menyenangkan dan berkompromi terhadap hal yang tidak menyenangkan. Toh namanya hidup, segalanya datang dengan aturan paket lengkap.
Toh, kita hidup setiap hari, mati hanya sekali. Semoga teman-teman dan orang-orang yang saya cintai hidup sepenuhnya dan bahagia. Salam.
Komentar
Posting Komentar